Q-INSIGHT

Jan Pieter Ate : Keamanan Global di Abad ke-21 Tidak Melulu pada Keselamatan Manusia

Jakarta, qnexus – Selama puluhan tahun, kata keamanan hampir selalu identik dengan tank, rudal, kapal perang, dan kekuatan militer. Negara yang memiliki angkatan bersenjata terbesar dianggap paling aman. Ancaman dipahami sebagai invasi, perang, atau agresi dari negara lain. Namun abad ke-21 mengubah hampir seluruh cara pandang tersebut.

Pandemi COVID-19 melumpuhkan dunia tanpa satu pun peluru ditembakkan. Perubahan iklim memicu gelombang panas ekstrem, kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan lintas benua. Serangan siber mampu melumpuhkan sistem keuangan dan infrastruktur vital. Krisis pangan, pencemaran udara, kerusakan hutan, serta hilangnya keanekaragaman hayati kini menjadi ancaman yang sama seriusnya dengan konflik bersenjata.

Dunia perlahan menyadari bahwa keamanan tidak lagi hanya soal mempertahankan wilayah negara, tetapi juga menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan bumi.

Perubahan paradigma ini mulai menguat setelah berakhirnya Perang Dingin. Para ilmuwan hubungan internasional mempertanyakan definisi keamanan yang terlalu sempit. Momentum penting hadir pada 1994 ketika ** memperkenalkan konsep human security melalui Human Development Report. Laporan tersebut menegaskan bahwa keamanan harus berpusat pada manusia (freedom from fear dan freedom from want), bukan semata-mata pada negara.

Dari sinilah konsep keamanan global berkembang menjadi pendekatan yang lebih luas. Keamanan dipahami sebagai kondisi ketika manusia, lingkungan hidup, ekonomi, teknologi, dan sistem internasional terlindungi dari berbagai ancaman yang bersifat lintas batas. Tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapinya sendirian.

Pandangan tersebut diamini oleh Mayjen (Purn) Drs. Jan Pieter Ate, MBus., MA. Dalam wawancara khusus, ia menegaskan bahwa keamanan global abad ke-21 harus dipahami sebagai keamanan yang bersifat komprehensif.

“Keamanan global di abad ke-21 adalah keamanan komprehensif. Tidak melulu pada keselamatan manusia, tetapi juga proteksi terhadap dan pelestarian lingkungan yaitu alam, hewan, udara, air, dan seluruh ekosistem dari segala bentuk ancaman.”

Menurut Jan Pieter Ate, ancaman masa kini tidak lagi memiliki wajah tunggal. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, pandemi, hingga kejahatan siber merupakan bagian dari tantangan keamanan modern yang dampaknya dapat melumpuhkan kehidupan masyarakat tanpa mengenal batas geografis.

Karena itu, konsep keamanan tidak lagi menjadi monopoli institusi pertahanan atau militer. Pemerintah tetap memegang peran penting, tetapi keberhasilan menjaga keamanan global juga bergantung pada dunia usaha, komunitas ilmiah, organisasi masyarakat sipil, media, hingga perilaku setiap individu.

Dalam perspektif ini, menanam pohon, menjaga kualitas air, mengurangi emisi karbon, melindungi satwa liar, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan literasi digital, dan membangun sistem kesehatan yang tangguh sama pentingnya dengan memperkuat pertahanan negara. Semua merupakan investasi keamanan jangka panjang.

Konsep tersebut juga mengubah cara negara memandang diplomasi. Kerja sama internasional bukan lagi sekadar pilihan politik, melainkan kebutuhan strategis. Krisis iklim, pandemi, perdagangan ilegal, pencemaran laut, hingga serangan siber tidak dapat diselesaikan secara unilateral. Ancaman global menuntut solusi global.

Indonesia sendiri memiliki posisi strategis dalam agenda ini. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan hutan tropis, keanekaragaman hayati, dan sumber daya laut yang luar biasa, Indonesia tidak hanya berkepentingan menjaga keamanan nasional, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga stabilitas lingkungan global.

Bagi Jan Pieter Ate, masa depan keamanan bergantung pada kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.

“Jika lingkungan rusak, sumber air tercemar, udara tidak lagi sehat, satwa kehilangan habitatnya, dan perubahan iklim semakin ekstrem, maka ancaman terhadap kehidupan manusia akan semakin besar. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada negara yang benar-benar aman.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa keamanan abad ke-21 tidak lagi diukur dari jumlah persenjataan atau kekuatan militer semata. Ukurannya adalah kemampuan sebuah bangsa melindungi kehidupan secara utuh—manusia, alam, teknologi, ekonomi, dan generasi yang akan datang.

Pada akhirnya, keamanan global bukan sekadar strategi pertahanan. Ia adalah komitmen bersama umat manusia untuk memastikan bahwa bumi tetap menjadi tempat yang layak dihuni. Sebab ketika planet ini aman, manusia pun memiliki masa depan, demikian tegas Jan Pieter Ate. [Jerimia Vegas]

 

About The Author

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *