Jan Pieter Ate : Dari Ukraina hingga Timur Tengah, Seberapa Besar Ancaman Perang Dunia Baru?


Jakarta, qnexus – Dunia belum benar-benar pulih dari berbagai krisis global. Perang Rusia-Ukraina masih belum tuntas, Timur Tengah masih bergolak, sementara rivalitas Amerika Serikat dan China terus menguat di berbagai kawasan strategis. Dalam situasi seperti ini, muncul satu pertanyaan yang semakin sering mengemuka: apakah dunia sedang bergerak menunggu waktu untuk perang yang lebih besar?
Bagi Mayjen (Purn) Drs. Jan Pieter Ate, MBus., MA, kemungkinan tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Karena, perang besar tidak lahir begitu saja. Ia biasanya merupakan akumulasi dari berbagai konflik yang saling berkaitan dan pada akhirnya menyeret negara-negara lain untuk ikut terlibat.
“Sangat mungkin menyulut perang yang lebih besar, terutama jika konflik-konflik tersebut mengganggu atau mengancam kepentingan pihak-pihak lain sehingga memaksa mereka ikut terlibat,” ujar Jan Pieter Ate dalam wawancara eksklusif dengan QNexus.
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan wajah peperangan pada abad ke-21. Konflik modern tidak lagi berdiri sebagai perselisihan dua negara semata. Di era globalisasi, hampir setiap kawasan memiliki keterkaitan melalui perdagangan, jalur energi, teknologi, investasi, maupun aliansi militer. Ketika salah satu simpul terganggu, dampaknya dapat menjalar ke berbagai belahan dunia.

Dalam teori hubungan internasional, menurut Jan Pieter Ate, kondisi ini dikenal sebagai security dilemma, yakni situasi ketika langkah pertahanan satu negara dipandang sebagai ancaman oleh negara lain. Akibatnya, masing-masing meningkatkan kekuatan militernya, membentuk aliansi baru, dan memperbesar potensi salah perhitungan yang dapat berujung pada perang terbuka.
Jan Pieter Ate mengingatkan bahwa sejarah telah berkali-kali memperlihatkan pola tersebut.
Perang Dunia I, misalnya, tidak dimulai dari konflik global. Pemicunya adalah pembunuhan Putra Mahkota Austria-Hongaria, Archduke Franz Ferdinand, di Sarajevo pada 1914. Namun, sistem aliansi yang saling mengikat membuat satu demi satu negara masuk ke dalam peperangan hingga akhirnya hampir seluruh Eropa terseret.
Demikian pula Perang Dunia II. Konflik berkembang bukan hanya karena ambisi ekspansi, tetapi juga karena kegagalan diplomasi dan ketidakmampuan komunitas internasional menghentikan eskalasi sejak dini.
“Contohnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II,” kata Jan Pieter Ate.

Menurutnya, pola sejarah tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai konflik yang sedang berlangsung saat ini.
Perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu contoh paling nyata. Selama Amerika Serikat dan negara-negara NATO masih membatasi keterlibatannya pada bantuan persenjataan, intelijen, pelatihan, serta dukungan ekonomi, konflik relatif tetap berada dalam batas tertentu. Namun, apabila kekuatan Barat terlibat secara langsung di medan perang, risiko eskalasi akan meningkat drastis.
“Perang Ukraina melawan Rusia berpotensi menjadi perang yang lebih besar apabila Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat terpancing untuk secara langsung terlibat. Beruntung, hingga kini hal itu belum terjadi,” jelasnya.
Kondisi serupa juga terlihat di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya menyangkut kepentingan kawasan, tetapi juga bersinggungan dengan rivalitas kekuatan besar dunia.

Apabila Rusia, China, atau Korea Utara memutuskan memberikan dukungan militer secara langsung kepada Iran, menurut Jan Pieter Ate, konfigurasi konflik dapat berubah secara fundamental. Konflik regional berpotensi berkembang menjadi konfrontasi antarkekuatan besar, dengan dampak yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, ia menilai dunia masih memiliki “rem” yang mampu menahan laju eskalasi. Kepentingan ekonomi global membuat banyak negara berpikir berkali-kali sebelum memilih perang terbuka. Selain itu, keberadaan senjata nuklir menciptakan efek penangkalan (deterrence), karena tidak ada negara yang benar-benar dapat memenangkan perang nuklir.
Di sisi lain, berbagai forum diplomasi internasional masih menjadi ruang penting untuk meredakan ketegangan, meskipun efektivitasnya sering dipertanyakan.

Karena itu, ancaman perang global pada dasarnya bukan hanya ditentukan oleh besarnya konflik, melainkan oleh keputusan politik para pemimpin dunia. Sejarah menunjukkan bahwa perang besar sering kali bukan hasil dari satu peristiwa tunggal, melainkan akibat rangkaian keputusan yang gagal menghentikan eskalasi sejak awal.
Bagi Jan Pieter Ate, pelajaran terbesar dari berbagai konflik internasional adalah pentingnya mengelola kepentingan, membangun komunikasi strategis, dan menjaga ruang diplomasi tetap terbuka. Ketika jalur dialog tertutup, ruang bagi penggunaan kekuatan militer akan semakin lebar.
Pada akhirnya, dunia memang belum berada dalam situasi Perang Dunia III. Namun, berbagai konflik yang berlangsung saat ini memperlihatkan bahwa stabilitas global jauh lebih rapuh dibandingkan beberapa dekade lalu. Dalam dunia yang saling terhubung, sebuah konflik lokal dapat dengan cepat berubah menjadi krisis internasional apabila kepentingan negara-negara besar mulai bertabrakan.
Itulah sebabnya, kewaspadaan, diplomasi, dan kemampuan mengendalikan eskalasi menjadi faktor yang menentukan apakah konflik-konflik hari ini akan tetap menjadi perang regional, atau justru menjadi awal dari babak baru dalam sejarah peperangan dunia, demikian Jan Pieter Ate. [Andini Dea]







