Q-REPORT

Xi Jinping-Donald Trump Hasilkan Kesepakatan Tarif, Dialog AI, dan Mekanisme Komunikasi Militer

Washington, QNexus International— Pertemuan puncak selama tiga hari antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berakhir pada Jumat, 25 September 2026, dengan sejumlah kesepakatan di bidang perdagangan, teknologi, serta penguatan mekanisme komunikasi bilateral.

Salah satu hasil utama pertemuan tersebut adalah kesepakatan mengenai perlakuan tarif yang lebih menguntungkan terhadap barang-barang non-sensitif senilai sekitar US$30 miliar dari masing-masing negara. Kesepakatan itu mencakup sejumlah komoditas yang diperdagangkan antara China dan Amerika Serikat, meski rincian mengenai besaran tarif dan waktu penerapannya kemudian masih perlu ditindaklanjuti melalui mekanisme bilateral.

Gedung Putih menyatakan, daftar barang dari Amerika Serikat yang masuk dalam pembahasan mencakup produk pertanian, ikan dan hasil laut, kayu dan produk kayu, kosmetik, serta sejumlah perangkat medis. Sementara itu, barang-barang asal China yang berpotensi memperoleh perlakuan tarif lebih rendah antara lain peralatan rumah tangga kecil, mainan, dekorasi, dan sejumlah produk konsumen lainnya.

Kedua negara juga sepakat mengoperasionalkan Dewan Perdagangan AS-China sebagai salah satu mekanisme pemerintah-ke-pemerintah untuk menangani persoalan perdagangan dan hambatan akses pasar. Mekanisme tersebut merupakan bagian dari kerangka yang sebelumnya disepakati dalam pertemuan kedua pemimpin di Beijing pada Mei 2026.

China dan AS juga sepakat memperluas hasil pembicaraan ekonomi yang sebelumnya berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan terbaru tersebut datang setelah kedua negara memperpanjang gencatan perdagangan atau trade truce selama dua bulan. Perpanjangan itu memberikan waktu tambahan bagi Washington dan Beijing untuk merundingkan kesepakatan perdagangan yang lebih luas.

Selain perdagangan, kecerdasan buatan atau AI menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan Xi dan Trump. Dimana kedua negara sepakat membuka dialog bilateral mengenai risiko dan manfaat AI, dengan putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada November. Washington dan Beijing juga akan membangun saluran komunikasi untuk menangani insiden yang berkaitan dengan AI, terutama ketika perkembangan teknologi tersebut berpotensi menimbulkan risiko yang lebih luas.

Gedung Putih menyebut kedua pihak menyepakati penggunaan istilah super intelligence dalam pembahasan teknologi tersebut. Sementara itu, China menyatakan pentingnya meningkatkan pertukaran mengenai perkembangan AI dan membangun konsensus seiring perkembangan teknologi.

Pembentukan mekanisme komunikasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar persaingan teknologi antara dua negara tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Dalam bidang keamanan, kedua negara juga berupaya memperkuat komunikasi antara militer AS dan China. Kedua pihak merencanakan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) mengenai komunikasi krisis oleh otoritas militer masing-masing. Mekanisme tersebut ditujukan untuk memperkuat komunikasi dan membantu mencegah kesalahpahaman atau eskalasi ketika terjadi ketegangan antara kedua negara.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menerjemahkan pembicaraan mengenai stabilitas strategis ke dalam mekanisme komunikasi yang dapat digunakan ketika terjadi krisis.

Meskipun menghasilkan sejumlah kesepakatan, pertemuan Xi dan Trump belum menyelesaikan seluruh persoalan struktural dalam hubungan ekonomi kedua negara. Washington dan Beijing masih menghadapi perbedaan mengenai berbagai isu, termasuk akses pasar, rantai pasok strategis, mineral tanah jarang (rare earths), teknologi maju, serta kebijakan industri.

Daftar barang yang kemudian dirilis pemerintah AS mencakup 77 kategori produk China yang berpotensi mendapatkan perlakuan tarif lebih rendah. Sementara daftar barang AS yang menjadi pembahasan China jauh lebih panjang, mencakup lebih dari 1.600 kategori, termasuk daging, hasil laut, produk susu, biji-bijian, batu bara, kayu, dan peralatan medis.

Dengan demikian, kesepakatan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses negosiasi perdagangan yang lebih luas, bukan penyelesaian menyeluruh atas perselisihan dagang AS-China.

Di luar perdagangan dan teknologi, pertemuan Xi-Trump juga membahas sejumlah persoalan internasional. Kedua negara menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan forum multilateral, termasuk Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan G20, serta berkomitmen mendukung penyelenggaraan pertemuan yang akan digelar oleh masing-masing negara.

Isu Iran juga masuk dalam pembicaraan kedua pemimpin. Pemerintah China menyatakan Xi mendorong Amerika Serikat dan Iran kembali ke jalur dialog dan negosiasi. Beijing juga menyatakan dukungan terhadap upaya menghidupkan kembali kesepahaman sebelumnya terkait persoalan tersebut. Kedua negara juga menyatakan posisi mengenai nonproliferasi nuklir dan pentingnya kebebasan navigasi di jalur-jalur perairan internasional.

KTT tersebut juga memperlihatkan bagaimana hubungan AS-China tidak hanya berlangsung melalui perundingan pemerintah, tetapi turut menyentuh hubungan antarmasyarakat. Salah satu hasil yang diumumkan Washington adalah kedatangan dua panda raksasa yang akan ditempatkan di Kebun Binatang Atlanta melalui skema sewa dari China. Pertukaran semacam itu menjadi bagian dari hubungan masyarakat dan budaya yang tetap berjalan di tengah persaingan strategis kedua negara.

Kunjungan Xi ke Washington juga menjadi kunjungan kenegaraan pertama presiden China ke Amerika Serikat sejak 2015. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi pertemuan tatap muka ketiga Xi dan Trump pada 2026 setelah keduanya kembali bertemu di Beijing pada Mei.

KTT tiga hari di Washington menghasilkan sejumlah mekanisme baru untuk mengelola hubungan AS-China, mulai dari perdagangan, dialog AI hingga komunikasi krisis militer. Namun, kesepakatan tersebut tidak serta-merta menghapus berbagai perselisihan strategis yang telah berlangsung lama. Perbedaan mengenai teknologi, perdagangan, mineral strategis, keamanan regional dan sejumlah isu geopolitik lainnya masih menjadi bagian dari hubungan kedua negara.

Karena itu, tindak lanjut setelah pertemuan Washington akan menjadi faktor penting untuk melihat sejauh mana kesepakatan yang diumumkan kedua pemerintah dapat diterapkan dan berkembang menjadi kesepakatan bilateral yang lebih luas.

Bagi negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, perkembangan hubungan Washington-Beijing juga menjadi perhatian karena kebijakan kedua negara memiliki dampak langsung terhadap perdagangan, rantai pasok, keamanan regional, serta hubungan ekonomi dengan negara-negara mitra seperti Jepang dan Korea Selatan.

Dengan berakhirnya kunjungan Xi ke Washington, hubungan China-Amerika Serikat memasuki fase baru yang ditandai oleh upaya memperkuat dialog dan mekanisme pengendalian risiko, sementara persaingan strategis di sejumlah bidang tetap berlangsung. [Roy Agusta dari berbagai sumber]

About The Author

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *