
Kata orang, semua jalan akhirnya mengarah ke kota. Semua peluang, semua cerah masa depan, seolah cuma ada di balik pintu gedung-gedung yang kacanya berkilau kena sinar matahari. Di desa, katanya, cuma ada sawah, kabut pagi, dan kenangan masa lalu. Tak heran kalau anak-anak muda yang baru tamat sekolah langsung berkemas, menumpang bus atau kereta, menuju tempat yang dikatakan penuh harapan.
Bukan mereka tak cinta tanah kelahirannya. Bukan mereka tak sayang pada orang tua yang duduk di beranda menunggu kabar. Tapi dompet tak bisa diisi dengan rasa cinta saja, dan perut tak kenyang dengan kata-kata “pulanglah kelak”.
Sungguh lucu cara kita memandang desa: sebagai gudang tenaga yang siap dikirim ke kota, sebagai tempat penyangga pangan yang harganya selalu diatur rendah, sebagai latar belakang foto liburan warga kota yang datang sebulan sekali lalu pergi lagi.
Desa diberi peran pendukung yang tak pernah naik panggung utama. Padahal sungai kehidupan ekonomi ini tak boleh cuma satu arah. Kalau airnya terus dialirkan ke satu sisi saja, sisi lain akan kering kerontang, dan sungainya sendiri akhirnya meluap karena tak punya tempat lain untuk menampung air.
Saat sawah dikelola hanya sebagai sumber beras bukan tempat usaha yang layak. Saat kebun hasilnya dijual seharga harga bibit saja. Saat kerajinan tangan dibuat tapi tak ada yang membelinya. Saat internet ada tapi lambatnya seperti berjalan kaki. Maka anak-anak yang cerdas, yang rajin, yang bermimpi besar, tak punya pilihan selain pergi. Mereka tak lari dari desa, mereka mencari nafkah yang desa tak mampu berikan, bukan karena tak bisa, tapi karena tak pernah diberi kesempatan.

Kita tak bermaksud menutup pintu kota sama sekali. Merantau itu mulia, belajar di kota itu baik, membangun karir di mana saja adalah hak setiap orang. Tapi perbedaannya besar sekali antara memilih pergi dan terpaksa kabur. Saat desa bisa menyediakan lapak pengolahan hasil bumi yang layak, pasar yang terhubung ke seluruh negeri, akses ke keuangan yang jujur, dan tempat berkumpul yang hidup, maka tinggal di desa bukan lagi penyerahan diri pada nasib, melainkan pilihan hidup yang setara dengan hidup di kota.

Air yang dialirkan ke sawah tak berarti merampas dari laut. Sawah yang subur akan memberi makan jutaan orang, menjaga tanah tetap utuh, melahirkan usaha-usaha baru yang tak bisa tumbuh di tengah aspal dan beton. Kemajuan yang sejati bukan membuat semua tempat tampak sama persis, melainkan memastikan setiap tempat punya kesempatan untuk tumbuh sesuai caranya sendiri.
Biarkan sungai bercabang, biarkan air mengalir ke mana saja dibutuhkan. Nanti orang bebas memilih. Tinggal di tepi laut yang ramai, atau kembali ke pinggir sawah yang tenang. Keduanya layak, keduanya bermakna. [Roy Agusta]











